EcoMasjid
Masjid Baitul Makmur : Penerapan Konsep Ecomasjid di Cikarang yang Menginspirasi

Masjid Baitul Makmur : Penerapan Konsep Ecomasjid di Cikarang yang Menginspirasi

2026-11-03 โ€ข oleh Baitul Makmur

Di Masjid Baitul Makmur, Cikarang Barat, ada satu pemandangan yang mungkin jarang ditemukan di masjid lain.

Di samping area masjid, tumpukan sampah plastik dipilah dengan rapi. Di sudut lain, ember-ember kompos berisi daun kering dan sisa makanan sedang diolah menjadi pupuk. Tidak jauh dari sana, ribuan maggot bergerak mengurai sampah organik. Sementara air bekas wudhu yang biasanya langsung terbuang, justru dialirkan kembali untuk menyiram tanaman dan kolam ikan.

Inilah wajah nyata dari gerakan Ecomasjid MUI.

Masjid Baitul Makmur bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat sekitar. Di tempat ini, menjaga bumi dipandang sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Semua bermula ketika pengurus masjid melihat satu kenyataan sederhana: sampah semakin banyak, penggunaan air terus meningkat, dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih rendah. Mereka kemudian berpikir, โ€œKalau masjid adalah pusat kehidupan umat, mengapa tidak dimulai dari masjid?โ€

Dari situlah perubahan dimulai.

Perlahan, Masjid Baitul Makmur mulai menerapkan konsep masjid ramah lingkungan. Jamaah diajak membawa kebiasaan baru ke dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya datang untuk salat, tetapi juga ikut menjaga lingkungan bersama-sama.

Salah satu gerakan pertama yang dilakukan adalah program sedekah sampah. Jamaah diminta membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah, seperti botol plastik, kardus, kertas, hingga minyak jelantah.

Awalnya banyak yang merasa aneh.

Masjid biasanya identik dengan sajadah dan Al-Qurโ€™an, bukan tempat mengumpulkan sampah. Namun pengurus masjid terus memberikan edukasi bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna tetap bisa menjadi manfaat jika dikelola dengan baik.

Sedikit demi sedikit, masyarakat mulai terbiasa.

Anak-anak TPA menjadi yang paling antusias. Setiap pekan mereka datang sambil membawa plastik bekas dan botol minuman dari rumah. Mereka belajar bahwa menjaga kebersihan lingkungan juga bagian dari ajaran Islam.

Sampah yang terkumpul kemudian dipilah. Sebagian dijual kembali, sebagian diolah, dan sebagian lainnya masuk ke area budidaya maggot.

Di bagian belakang masjid, pengunjung bisa melihat tempat budidaya larva Black Soldier Fly atau maggot. Larva ini digunakan untuk membantu mengurai sampah organik seperti sisa makanan, sayur, dan daun-daun kering.

Yang biasanya menjadi sampah dan menimbulkan bau, kini berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Maggot membantu mempercepat proses penguraian sampah organik secara alami. Hasil akhirnya bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak dan pupuk organik. Dengan cara itu, jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan menjadi jauh berkurang.

Tidak berhenti di situ, masjid juga mengolah sampah organik menjadi kompos.

Daun-daun kering dari halaman masjid dan sisa makanan dikumpulkan lalu difermentasi menjadi pupuk alami. Pupuk itu kemudian digunakan kembali untuk tanaman di sekitar masjid.

Karena itulah suasana Masjid Baitul Makmur terasa hijau dan sejuk. Banyak tanaman tumbuh subur di sekitar area masjid, bukan hanya sebagai penghias, tetapi menjadi simbol bagaimana limbah bisa kembali memberi kehidupan.

Konsep Ecomasjid MUI juga terlihat jelas di area tempat wudhu.

Pengurus masjid menyadari bahwa setiap hari ratusan liter air digunakan jamaah. Jika dibiarkan terus terbuang, jumlahnya sangat besar. Akhirnya dibuatlah sistem daur ulang air wudhu.

Air bekas wudhu dialirkan ke tempat penyaringan sederhana sebelum digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan kebutuhan non-konsumsi lainnya. Selain itu, keran hemat air dipasang agar penggunaan air menjadi lebih efisien.

Jamaah pun mulai belajar bahwa hemat air bukan hanya soal pengeluaran, tetapi juga bagian dari ajaran Islam untuk tidak berlebihan.

Perubahan-perubahan kecil itu ternyata membawa dampak besar.

Masjid menjadi lebih hidup. Jamaah bukan hanya datang untuk beribadah, tetapi juga belajar tentang kepedulian terhadap lingkungan. Anak-anak tumbuh dengan kebiasaan memilah sampah. Warga mulai memahami pentingnya mengurangi limbah plastik dan menghemat air.

Kabar tentang Masjid Baitul Makmur perlahan menyebar ke berbagai daerah. Banyak pengurus masjid datang untuk belajar langsung tentang konsep Ecomasjid MUI, mulai dari pengelolaan sampah, budidaya maggot, composting, hingga sistem daur ulang air wudhu.

Masjid ini membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah besar atau teknologi mahal.

Kadang perubahan cukup dimulai dari hal sederhana:
membawa botol minum sendiri,
memilah sampah dari rumah,
mengolah sisa makanan menjadi kompos,
atau menggunakan air seperlunya saat berwudhu.

Dan dari sebuah masjid di Cikarang, lahirlah pesan sederhana yang mulai menginspirasi banyak orang:
bahwa rumah ibadah bukan hanya tempat mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga tempat belajar menjaga bumi bersama-sama.